Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 26 Januari 2014 PDF Print E-mail

Penyembah Yang Sejati

Yoh 4:13-18;23-24

Pdt. Kornelius Kuswanto

Latar belakang geografis dari Israel, Yerusalem dalam pasal 3, Tuhan Yesus membersihkan bait Allah yang dikotori oleh pedagang. Kemudian malamnya Tuhan Yesus didatangi oleh Nikodemus dan bersaksi tentang diperanakkan kembali dan menjadi anak Tuhan. Setelah pelayanan di Yerusalem, Tuhan Yesus pergi ke sungai Yordan untuk melihat muridNya membaptiskan orang. Tujuan berikutnya adalah ke Galilea. Umumnya orang Yahudi menuju Galilea tidak akan melewati Samaria. Orang Samaria adalah orang yang kafir dan orang Yahudi tidak mau ada hubungan dengan orang Kafir. Orang Yahudi akan mengambil rute yang lebih jauh dengan menyeberang sungai Yordan.

Tuhan Yesus berbeda dengan orang Yahudi pada umumnya. Tuhan Yesus pada Yoh 4 dikatakan bahwa Tuhan Yesus harus melewati daerah Samaria, bukan supaya perjalanan menjadi lebih singkat, tetapi karena di Samaria, Tuhan akan memenangkan seorang perempuan Samaria.

Di Samaria ada 2 gunung yaitu gunung Gerisim di sebelah selatan dan gunung Ebal (Ul 27). Gunung Gerisim merupakan tempat untuk mengucapkan berkat, sehingga digunakan sebagai tempat beribadah. Di antara kedua gunung tersebut terdapat kota Sikhar. Di kota Sikhar, di zaman modern pernah dibangun sebuah gereja, dan di bawah gereja tersebut terdapat sumur Yakub. Tempat orang-orang mengambil air untuk kehidupan mereka.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 19 Januari 2014 PDF Print E-mail

Ketidakpuasan yang Berdosa

1 Kor. 10:1-5

Ev. Bakti Anugrah.

Bangsa Israel dikeluarkan oleh Tuhan dari Mesir dan dipimpin oleh Tuhan Yesus di padang gurun selama 40 tahun, kemudian memasuki tanah Perjanjian. Dalam kitab Keluaran, bangsa Israel yang keluar dari Mesir berulang kali menyatakan ketidakpuasan mereka sehingga Tuhan membunuh sebagian besar dari mereka. Contoh ketidakpuasan bangsa Israel: mereka membuat patung lembu emas karena tidak sabar menunggu Musa yang tidak turun-turun dari gunung Sinai, bangsa Israel mengeluhkan makanan mereka selama di padang gurun. Begitu banyak ketidakpuasan bangsa Israel terhadap Tuhan. Bahkan mereka tidak puas menyembah Allah sebagai Allah. Dosa bangsa Israel yang paling sering terjadi adalah penyembahan berhala.

Ketidaksetiaan bangsa Israel terhadap Tuhan ada hubungannya dengan ketidaksetiaan secara pernikahan. Dalam budaya kuno, penyembahan berhala dan ritual ibadah secara seksual sangat erat kaitannya. Salomo yang mempunyai gundik dan selir sebanyak 1000 orang jatuh ke dalam penyembahan berhala dikarenakan oleh hal ini. Padahal Tuhan sudah mengingatkannya supaya berhati-hati.

Ketidakpuasan adalah dosa yang jika kita tidak sadari dan anggap biasa, akan menggerogoti kerohanian umat Tuhan. Jerry Bridges menulis dalam bukunya “Respectable Sins” (“Dosa Yang Dianggap Pantas”), ketidakpuasan paling sering muncul dari keadaan yang tidak nyaman yang terus berlangsung, tidak berubah dan tidak dapat kita ubah.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 12 Januari 2014 PDF Print E-mail

Waktu kita ada di tangan Tuhan

Mzm. 31:16, Mzm. 90:1-17

Pdt. Andi Halim, M.Th

Dalam bagian pendahuluan dari buku “Dosa-dosa Spektakuler” karangan John Piper dikatakan bahwa Allah menyatakan kemuliaan-Nya yang sangat besar justru melalui malapetaka yang paling mengerikan. Biasanya manusia tidak punya konsep ini. Kemuliaan Allah selalu digambarkan dengan sesuatu yang mengagumkan atau menggembirakan bagi manusia. Tetapi menurut John Piper kemuliaan Allah dinyatakan dalam suatu musibah atau kenyataan yang mengerikan. Manusia seringkali menyanyikan mengenai musibah ini, misalnya dalam lagu “Ada Kuasa dalam Darah-Nya.” Darah merupakan hal yang mengerikan. Kemuliaan Allah dinyatakan dalam salib. Allah menggenapi rencana-Nya melalui kejahatan manusia yang paling besar yaitu penyaliban Anak-Nya, Tuhan Yesus.

Dalam kehidupan kita sehari-hari apakah yang kita pikirkan tentang kebaikan Allah bagi saudara dan saya? Umumnya kita berpikir bahwa kebaikan Allah adalah saat kita hidup senang, semuanya berjalan lancar, tidak ada musibah ataupun malapetaka. Saat inilah kebaikan Allah dinyatakan. Pernahkah kita berpikir bahwa kebaikan Allah ditunjukkan saat kita mengalami malapetaka? Umumnya kita tidak pernah berpikir kebaikan Allah dinyatakan dalam musibah/ malapetaka. Kita berpikir bahwa kebaikan Allah dinyatakan dalam apa yang baik menurut manusia tetapi hal ini tidak realistis.

Tuhan kita bukan Tuhan yang selalu ingin menyenangkan manusia. John Piper mengatakan bahwa kita boleh saja menghayati berkat Tuhan melalui keindahan, misalnya keluarga yang rukun. Tetapi pernahkan kita menghayati berkat Tuhan saat musibah terjadi pada keluarga kita? Bagaimana kita bisa menerima semua musibah yang kita alami sebagai bagian dari anugrah Tuhan. Inilah kepincangan dari pemikiran manusia pada umumnya yang beranggapan bahwa karena Allah baik sehingga tidak mungkin ada musibah, sakit penyakit, kematian. Baik berarti semuanya bagus. Tetapi hal ini bukanlah ajaran Alkitab.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 05 Januari 2014 PDF Print E-mail

Masa Hidupku Ada di Dalam Tangan-Mu

Mzm. 31:16

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Kebiasaan kita setelah mengucapkan ‘selamat tahun baru’ biasanya adalah mendoakan lawan bicara kita supaya mereka sehat, panjang umur, sukses, keinginannya terpenuhi, dll. Padahal yang sedang terjadi dan akan terus digenapi oleh Tuhan adalah kerajaan Allah dan kehendak-Nya. Manusia dalam menjalani hidup selalu ingin menentukan keinginan dan tujuannya sendiri. Padahal dalam hidup kita yang sedang berjalan adalah kehendak dan keinginan Allah.

Ada 2 pandangan yang mempengaruhi worldview kita, yaitu post-modernism dan open-theism. Kedua pandangan ini mirip. Post modernism mengajarkan bahwa di dunia ini tidak ada yang bersifat mutlak, tidak ada yang absolut, semua hal bersifat relatif. Pandangan ini mengatakan bahwa kebenaran tidak ada yang mutlak, definisi kebenaran bergantung pada komunitas di mana kita hidup. Kebenaran Kristen hanya mutlak bagi Kristen dan tidak mutlak bagi agama lain.

Pemikiran post modernism misalnya: berkembang menjadi orang tua tidak boleh memutlakkan kebenarannya karena anak punya kebenarannya sendiri. Spirit post modernism ini sebenarnya merupakan spirit pemberontakan. Kebenaran bagi pandangan post modernism adalah tidak boleh memutlakkan sesuatu. Jadi kebenaran adalah kebebasan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 22 Desember 2013 PDF Print E-mail

Janji Imanuel

Yes. 7:1-8

Ev. Gito T. Wicaksono

Anak kecil jika bertengkar itu wajar, tetapi ketika adik kakak bertengkar sampai besar kemudian saling melukai, bahkan saling berniat untuk membunuh lalu membawa teman untuk saling berhadapan dan terjadilah peperangan di dalam keluarga itu sendiri, hal ini menyedihkan dan mengerikan sekali. Kalau kita melihat sejak keluarga pertama, Adam dan Hawa, kita sudah melihat persaingan seperti itu: Kain membunuh Habel. Adik dibunuh oleh kakaknya yang iri hati. Kita melihat bahwa Esau dan Yakub juga demikian. Yakub menipu Esau, kakaknya, dan Esau pernah hasrat membunuh Yakub walaupun tidak jadi. Yakub sendiri demikian, punya 12 anak lalu mereka mengungsi ke Mesir.

Setelah keluar dari Mesir, masuk era Yosua dan era Hakim-Hakim (sekitar 350 tahun, hampir sama dengan Indonesia dijajah Belanda) dengan kepemimpinan yang kacau sekali. Hakim-Hakim sebetulnya secara singkat adalah pemimpin tetapi secara sporadis (tidak ada kesatuan). Dimulai oleh seorang yang bernama Samuel, mulai terjadilah satu kesatuan di dalam kerajaan tetapi kemudian raja pertama dari suku Benyamin yaitu Saul, tidak senang dengan Daud, bertengkar lagi dan Daud dikejar-kejar sampai akhirnya Saul bunuh diri lalu Daud menjadi raja. Awalnya Daud juga tidak disetujui oleh suku-suku yang lainnya terutama suku Benyamin, bermusuhan, namun akhirnya bersatu di bawah kepemimpinan Daud. Setelah Daud, muncul Salomo. Setelah Salomo, pecah lagi bahkan lebih dahsyat lagi antara kerajaan Yehuda dan kerajaan Israel. Dua suku, uniknya adalah dari suku Yehuda dan suku Benyamin. Tadinya suku Yehuda dan suku Benyamin bermusuhan, sekarang mereka bersatu berhadapan dengan suku-suku yang lainnya. Di antara 2 kerajaan ini saling bermusuhan. Bukan hanya itu, seringkali masing-masing membawa teman. Itulah yang kita lihat dalam Yes. 7:1.

Raja Yehuda (Ahas) mau diserang oleh saudaranya sendiri, Raja Israel, yaitu Pekah bin Remalya. Raja Israel membawa teman yaitu Raja Aram, hendak menyerang Yehuda. Bayangkan aslinya mereka adalah bersaudara tetapi mereka bertengkar sendiri dan bukan hanya bertengkar, demi sebuah kekuasaan, tidak pandang saudara dan membawa teman. Orang Aram adalah orang yang tidak mengenal Tuhan namun sayangnya Ahas juga adalah raja yang jahat dan tidak mau taat kepada Tuhan. Ketika Yehuda diserang sendirian, Ahas langsung memanggil Raja Asyur. Asyur adalah bangsa yang kuat. Jadi orang-orang Asyur maupun Aram yang pernah menjadi musuh Israel sendiri justru sekarang diajak berperang sebagai teman (sekutu). Sekutu Israel adalah Aram dan sekutu Yehuda adalah Asyur, bangsa yang begitu kejam. Ternyata kita lihat senjata makan tuan. Asyur memang membantu menghancurkan Israel dan Aram, tetapi nantinya juga menghancurkan Yehuda.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 2 of 46
RocketTheme Joomla Templates