Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 07 Juni 2015 PDF Print E-mail

Amanat Agung

Mat.16:18; 28:19-20

Pdt. Andi Halim, M.Th

Kita perlu mengaitkan keberadaan kita dan gereja dengan sejarah kerajaan Allah. Tidak semua gereja berkaitan dengan hal ini. tidak semua gereja benar, bahkan ada gereja yang sesat yang justru memberitakan ajaran Iblis. Miisalnya ada gereja mengajarkan positive thinking. Ini bukan ajaran berpikir posistif tetapi merupakan aliran bahwa hidup kita sukses atau tidak ditentukan oleh kekuatan pikiran. Film The Secret menyatakan bahwa pikiran manusia dapat mengendalikan hal-hal yang luar biasa tanpa agama dan iman secara spektakuler sekalipun mereka adalah orang atheis, bahkan bisa menyembuhkan penyakit.

Di mana sesatnya? Ini jelas bukan theosentris, hidup dan nasib kita bukan ditentukan dan berpusat pada Allah, tetapi pada kekuatan pikiran manusia. Saya yakin ini pasti dari setan. Gereja yang mengajarkan hal ini pasti bukan dari Tuhan. Lainnya adalah theologi sukses: asalkan mau beriman pasti apapun yang diminta akan kita dapatkan. Ini dipraktekkan melalui sugesti diri oleh banyak motivator. Hal ini memang mempengaruhi orang secara kejiwaan karena orang pasti akan bersemangat kalau didorong terus. Sekarang istilah “semangat pagi!” sudah populer. Belum lagi ajaran kalau beriman pasti sembuh. Lain lagi adalah ajaran bahwa hari ini masih ada nabi dan rasul dan wahyu tambahan.

Pertanyaannya adalah apakah gereja kita sekarang masih meneruskan visi kerajaan Allah atau mau lari ke mana? Ayat-ayat yang kita baca ini membicarakan tentang ikatan perjanjian dengan Allah. Gereja yang masih menjalankan misi kerajaan Allah berarti masih melanjutkan ikatan perjanjian dengan Allah ini di dalam kegiatan-kegiatannya. Hidup yang berarti dan bernilai adalah hidup yang disertai dengan perjanjian. Misalnya orang menikah, bisnis, bekerja di perusahaan,atau bahkan menjadi warga negara Indonesia pun ada ikatan perjanjiannya. Kalau tidak ada ikatan perjanjian berarti tidak jelas. Menjadi anggota gereja dan mau beribadah pun ada ikatan perjanjiannya, kita tahu jam kebaktiannya yang harus kita setujui, umumkan dan nyatakan kepada jemaat dan harus dihadiri.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 31 Mei 2015 PDF Print E-mail

Esensi Pencurahan Roh Kudus

Bil.11:24–30; Yl.2:28–32; Kis.1:8

Vic. Gito T. Wicaksono

Musa, dalam Bil.11:24–30 ini mengajarkan bahwa pimpinan Roh itu tidak hanya bagi para tua-tua, tetapi juga berlaku bagi orang yang bukan golongan tua-tua, yaitu Eldad dan Medad. Di sini Musa merindukan semua orang bisa menjadi nabi. Dalam konteks ini memiliki arti bahwa pimpinan Roh Kudus itu tidak hanya bagi para hamba Tuhan atau pemimpin-pemimpin agama saja, tetapi juga berlaku bagi semua orang yang dikehendaki-Nya. Di sini Musa merindukan semua orang bisa bersaksi di bawah pimpinan dan kuasa Roh Kudus tersebut. Ini juga menunjukkan bahwa jika Roh Kudus memimpin kita untuk bersaksi, maka kita harus bersaksi. Sebaliknya, jika Roh Kudus tidak memimpin, maka kita harus diam.

Perikop dalam Yl.2:28–32 ini dikutip oleh Rasul Petrus pada khotbahnya setelah Hari Pentakosta (bnd. Kis.2:17–21). Nubuatan Nabi Yoel ini mengajarkan bahwa suatu hari nanti Roh Kudus akan dicurahkan ke atas semua orang percaya, bukan hanya para pemimpin agama saja. Dan nubuatan ini – juga yang adalah kerinduan Musa (Bil.11:29) – digenapi pada Hari Pentakosta. Para murid yang notabene bukan dari golongan pemimpin agama dipenuhi oleh Roh Kudus sehingga mereka dapat bersaksi dalam berbagai bahasa lain yang mereka belum pernah pelajari. Hal ini menunjukkan bahwa saat Roh Kudus tercurah pada orang-orang itu maka kuasa Roh Kudus tersebut menjadi milik mereka. Sehingga selama Roh Kudus memimpin mereka maka Firman Tuhan menjadi milik merekadan bisa dipelajarioleh mereka.

Kalau Roh Kudus memenuhi kita maka akibat bawaannya adalah kita selalu ingin bersaksi. Hal itu tidak akan bisa dihentikan. Sekuat-kuatnya kita menolak atau ingin melepaskannya, selalu ada sesuatu yang mencegahnya. Ada suatu kuasa yang membuat kita tetap ingin bersaksi (Kis.1:8). Sayangnya dalam hal pencurahan Roh Kudus kita seringkali lebih tertarik pada fenomenanya saja, bukan esensinya. Esensi pencurahan Roh Kudus adalah bagaimana kuasa Roh Kudus membuat kita terus bersaksi. Yang paling penting adalah esensi kuasa Roh Kudus, bukan fenomenanya. Dalam Bil.11:25 di bagian akhir bahkan dikatakan bahwa fenomena turunnya Roh Kudus tidak terjadi lagi namun yang terjadi terus-menerus adalah esensi turunnya Roh Kudus, yaitu kesaksian. Kuasa ini tidak memanipulasi kita secara emosi melalui suasana tetapi membuat kita tidak bisa berhenti bersaksi dalam kondisi apa pun, bahkan kematian sekalipun.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 24 Mei 2015 PDF Print E-mail

Kuasa Pentakosta

Kis. 2:14–28

Vic. Bakti Anugrah

Hari Pentakosta merupakan hari perayaan panen bagi orang Israel di Perjanjian Lama. 50 hari setelah Paskah orang-orang Yahudi pun berkumpul di Bait Suci dan mempersembahkan hasil pertama dari panen mereka.

Kini, pada saat orang-orang Yahudi sedang berkumpul di Yerusalem untuk merayakan Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan dan 3000 orang bertobat setelah mendengar kotbah Petrus. Sama seperti waktu orang Israel mempersembahkan hasil pertama panen mereka di hari Pentakosta, pada hari ini pula 3000 orang bertobat. Merekalah buah-buah sulung bagi Tuhan. Artinya masih akan ada buah-buah pertobatan susulan. Di Yerusalem adalah buah pertama. Berikutnya adalah Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi seperti pesan dan janji Tuhan Yesus sebelum Ia naik ke surga (Kis.1:8).

Yesus naik ke surga 40 hari setelah Paskah dan Ia meminta para murid-Nya untuk tinggal, berpuasa dan berdoa, mempersiapkan hati untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Puasa mereka lakukan untuk mengenang dan mengingat pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Orang Kristen juga baik untuk melatih disiplin rohani dalam hal berpuasa ini karena puasa menyadarkan kita bahwa ada kebutuhan lain dalam hidup ini selain makan dan minum, yaitu kebutuhan rohani.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 17 Mei 2015 PDF Print E-mail

Menderita karena Kebenaran

1 Petrus 3:13 – 17

Vic. Calvin Renata

Kondisi jemaat di mana Petrus mengirim surat ini adalah waktu mereka mengalami penganiayaan. Penganiayaan itu bisa dalam bentuk fisik mau pun non fisik. Dalam ayat 8, Petrus mengajarkan agar mereka saling mendoakan dan menguatkan dalam penganiayaan. Dan ayat 13 – 17 ini merupakan lanjutan dari ayat-ayat sebelumnya.

Petrus mengatakan dalam ayat 13 bahwa jika kita rajin berbuat baik, biasanya orang pun tidak ingin berbuat jahat pada kita. Tapi ini bukan suatu rumusan yang baku atau mutlak. Bukan berarti jika kita rajin berbuat baik, maka pasti tidak akan ada orang yang berbuat jahat pada kita. Sebab dalam ayat 14 diajarkan bahwa kita pun harus siap menderita karena kebenaran. Hal ini tidak bisa disangkali. Meski pun kita sudah berbat baik, tetap tidak tertutup kemungkinan kita menerima kejahatan dari orang lain. Orang lain ini bisa orang yang kepadanya kita tidak berbuat baik atau bahkan orang yang kepadanya kita berbuat baik.

Kehidupan Tuhan Yesus itu adalah contoh yang paling jelas. Yesus sudah berbuat baik, menjadi teladan, dan mengasihi murid-muridNya, tetapi Yudas, salah satu murid-Nya, justru mengkhianati Dia. Maka ayat ini bukan berarti mutlak. Dalam ayat 14 itu pula Petrus mengatakan suatu nasehat yang aneh, yaitu jika kita harus menderita karena kebenaran, maka kita berbahagia. Hal ini merupakan kutipan dari Mat. 5:10, di mana Yesus mendefinisikan tentang bahagia. Salah satunya adalah ”Berbahagialah kamu pada waktu kamu dianiaya karena kebenaran.” Ini adalah definisi tentang bahagia yang tidak ada dalam pemikiran mana pun di dunia. Dalam filsafat Barat mau pun Asia, dibahas juga mengenai bahagia. Tujuan hidup orang itu adalah menjadi bahagia. Tapi apa bahagia itu? Bagaimana bisa bahagia? Ini memberikan pemahaman yang berbeda-beda.

Dalam filsafat Yunani diajarkan bahwa orang menjadi bahagia jika orang itu hidup dengan baik, dalam arti hidup sebagai manusia sebagaimana mestinya, khususnya hidup dengan rasio, berpikir, dan hidup berfilsafat. Itu adalah hidup yang berbahagia. Ini adalah definisi dalam filsafat dan agama-agama. Ternyata tujuan hidup manusia adalah untuk mencapai kebahagiaan. Cita-cita manusia itu bahagia.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 10 Mei 2015 PDF Print E-mail

Melayani Tuhan dengan Rendah Hati

Ul.8:1-30

Pdt. Andi Halim, M.Th

Bangsa Israel itu unik. Seluruh Alkitab menceritakan peran Allah bagi bangsa ini. Pertama Allahlah yang memilih bangsa ini. Tetapi bangsa ini adalah bangsa yang keras kepala, tegar, tengkuk dan sulit diatur. Kesimpulan kita: bisa jadi Tuhan salah pilih, kenapa tidak pilih bangsa lain saja?

Ada yang mengatakan bahwa lebih mudah Tuhan turun ke dalam dunia daripada mengatur bangsa ini. Akan tetapi apakah Allah salah pilih? Tidak. Kedaulatan Allah yang memutuskan segala sesuatu tidak mungkin keliru. Kalau kita mungkin salah. Misalnya salah pilih jodoh.

Yang unik adalah adakah satu bangsa seperti bangsa Israel yang begitu keras kepala dan memberontak kepada Allahnya dan berkelahi dengan Allahnya?

Bagaimana membuat Allah tidak marah dan tidak menghukum kita? Bangsa Israel tidak pernah menemukan rumus untuk mengendalikan Allah karena Allah Israel adalah Allah yang punya pendirian dan rencana-Nya sendiri. Allahlah yang memaksa Israel untuk tunduk kepada kehendak-Nya. Allah adalah Allah yang mendidik bangsa ini seperti ayah mendidik anaknya. Bagaimana mungkin Ia kewalahan dan sulit mendidik?
Tapi cara kerja Tuhan bukan instan atau keras seperti algojo menghabisi pesakitan sebaliknya Tuhan seperti ayah mengajari anaknya (Ul.8:5). Ini adalah cerita yang melihat ke belakang apa yang selama ini sudah Tuhan kerjakan kepada bangsa ini, yaitu membuat bangsa ini rendah hati (8:2-3).

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 2 of 57
RocketTheme Joomla Templates