Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 20 April 2014 PDF Print E-mail

Fokus berita Paskah

Yes. 53:1, Yoh.12:38, Rm.10:16

Ev. Gito T.Wicaksono

Di dalam hidup kita seringkali kehilangan fokus. Seekor singa dalam sebuah sirkus seringkali disodorkan kursi oleh sang pawang langsung tidak berkutik. Ini bukanlah kekuatan gaib melainkan masalah fokus. Singa melihat ada 4 kaki kursi tidak tahu harus fokus kemana. Binatang segalak itu bisa ditundukkan ketika fokus /konsentrasinya dibelokkan. Pengalihan perhatian.

Kita pun demikian. Kita diciptakan untuk fokus pada 1 hal. Namun seringkali kita hidup tidak memiliki fokus. Gereja pun fokus utamanya seringkali bukan Kristus. Alkitab menyatakan bahwa fokus iman Kristen adalah salib. Mujizat terjadi, tetapi bukan fokus. Bahkan dalam Perjanjian Lama berita mengenai kedatangan Mesiaspun mengenai Mesiasnya yang akan menderita.

Begitu juga dengan orang-orang Yahudi menjadi kehilangan fokus. Mesias yang mereka harapkan adalah Mesias yang akan melepaskan mereka dari penjajahan. Manusia sejak kecil menginginkan model. Anak-anak menjadikan orang tuanya sebagai model. Bangsa Israel menjadikan Raja Daud sebagai model Mesias yang mereka harapkan. Oleh karena itu begitu Yesus mengatakan Dialah Roti Hidup, bahwa Dia harus dikorbankan, orang Yahudi berpikir Dia dipikir gila. Orang Yahudi menghendaki Mesias yang bisa melepaskan mereka dari penjajahan Romawi. Mayoritas orang Yahudi kecewa terhadap Yesus. Yesus menggenapkan Mesias yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama yaitu Mesias yang menderita (Yes.53). Ahli Taurat dan orang Farisi jelas tahu bagian firman dari Yesaya 53 ini. Namun mengapa fokus mereka bisa sampai bergeser /menyimpang dari yang dinyatakan Yesaya ini? Karena mereka punya harapan sendiri. Itu sebabnya Kristus ditolak.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 06 April 2014 PDF Print E-mail

Panggilan, Pilihan, Penetapan dan Kedaulatan

Ul. 7:7-8

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Di dalam panggilan untuk melayani ada beberapa prinsip:

1. Menyadari dunia ini milik Siapa. Dalam sebuah lagu yang berjudul This is my Father’s World (Inilah Dunia-Hu) dikatakan bahwa dunia ini adalah milik Bapa. Kita seringkali lupa dunia ini milik siapa. Kita tidak dapat hidup semau sendiri karena dunia ini bukan milik kita. Kita berada di rumah Bapa tetapi kita tidak mau ingat apa kehendak Bapa. Kita sendiri pun milik Bapa. Kita bukan milik diri kita sendiri. Segala-galanya adalah dari Bapa, termasuk hidup kita. Oleh karena itu sudah seharusnyalah hidup kita mengingat apa yang dikehendaki Bapa.

Seperti Tuhan Yesus sendiri waktu datang ke dunia, Ia tahu dengan jelas tujuan-Nya datang ke dalam dunia adalah untuk menggenapi kehendak Bapa-Nya. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah di dalam rencana dan kedaulatan-Nya yang sempurna. Kita diberi hak istimewa untuk berbagian dalam pekerjaan Kerajaan Allah.

Apa prioritas kita? Benarkah kita mengutamakan kehendak Tuhan seperti yang kita doakan dalam Doa Bapa kami? Jangan waktu mengucapkan doa Bapa kami kita hanya lip-service.

Kita sudah ditebus dengan harga yang mahal. Ikut Kristus bukan untuk kepentingan diri tetapi untuk kepentingan Kerajaan Allah. Ajaran yang mengutamakan kepentingan diri adalah ajaran sesat. Ibadah yang benar adalah hidup bagi kemuliaan Tuhan. Kita hidup di dunia Bapa dan kita hidup untuk menuruti kehendak Bapa.

Lalu apa kehendak Tuhan bagi kita? Ada orang yang bingung harus melayani apa dan mau mengerjakan pelayanan apa. Salah satu prinsipnya adalah mulai setia dari perkara kecil yang Tuhan percayakan pada kita demi kemuliaan-Nya. Tuhan menghendaki kita melayani mulai dari hal-hal kecil. Sudahkah kita melakukannya? Minimal kita bersaksi mengajak teman kita untuk mengenal jalan keselamatan. Mari beritakan kebenaran. Ini hal konkrit yang dapat kita lakukan. Jangan bingung mau melayani apa, kita bisa mulai dengan menceritakan apa yang dikerjakan oleh Allah dalam hidup kita. Kita tidak menawarkan masa depan cerah tetapi kita menawarkan kebenaran.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 13 April 2014 PDF Print E-mail

Tertukarnya Berkat dan Kutuk

Mzm. 22:1-8; Im. 16:5-10; Bil. 21:5-9

Ev. Bakti Anugrah

Paul Washer penulis buku “Gospel Power and Message” mengatakan seringkali dalam pemberitaan Injil tentang Yesus Kristus Tuhan kita, ada kesalahan besar di dalam pemberitaan kita, yaitu kita kurang menekankan tentang kematian Yesus Kristus. Banyak gereja malah memberitakan tentang kepentingan manusia tetapi kematian Tuhan Yesus jarang disinggung.

Jika kita mengatakan Kristus mati, apakah bedanya? Karena semua orang juga mati. Jika kita mengatakan Yesus mati secara terhormat, apakah bedanya dengan para martir? Apakah perbedaan mendasar antara kematian Yesus dengan kematian orang lain?

Perbedaannya adalah di dalam hal, Yesus Tuhan kita mati menanggung pelanggaran dari umat-Nya dan penderitaan-Nya adalah penderitaan hukuman ilahi yang seharusnya kita tanggung. Yesus tidak sekedar mati, Ia menanggung murka Allah dan pelanggaran-pelanggaran kita.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 30 Maret 2014 PDF Print E-mail

Gembala Yang Baik

Yoh. 10:11-18

Ev. Elvis Ratta

Setiap manusia pernah mengalami krisis di dalam hidupnya. Bahkan ada kalanya harus menghadapi krisis yang sangat berat, jauh lebih berat dari kemampuannya untuk mengatasinya. Itu sebab, ada sebagian orang yang karena tak sanggup menghadapi krisis hidupnya akhirnya bunuh diri, gila, menjadi orang jahat, atau mengeluh, Tuhan apa salahku hingga Engkau memberikan aku kesulitan yang begitu besar dalam hidupku? Yesus adalah gembala yang baik. Kalimat ini sudah sering kita dengarkan. Bahkan Penggambaran kalimat ini juga dituangkan dalam bentuk lukisan. Tetapi lebih dari pada itu, sebenarnya apa yang menjadi hal penting dari kalimat ini: Yesus adalah Gembala yang Baik?

Akulah Gembala Yang Baik. Ini adalah pernyatan keempat dari tujuh pernyataan Tuhan Yesus, ketika Dia mengatakan “Akulah …” yang merupakan keunikan Injil Yohanes dan hanya dicatat dalam Injil Yohanes. Ketujuh pernyataan "Akulah …" ini adalah: Akulah Roti Hidup (Yoh. 6:35); Akulah Terang Dunia (Yoh. 8:12); Akulah Pintu (Yoh. 10:7); Akulah Gembala yang Baik (Yoh. 10:11); Akulah Kebangkitan dan Hidup (Yoh. 11:25); Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup (Yoh. 14:6); Akulah Pokok Anggur yang Benar (Yoh. 15:1). Dengan pernyataan ini Yesus menyatakan secara kiasan peranan-Nya dalam penebusan umat manusia. Injil Yohanes dituliskan oleh Rasul Yohanes di Efesus kepada orang-orang percaya dengan maksud membawa pembacanya supaya terus percaya kepada Yesus Kristus bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah walaupun ada ajaran palsu seperti Gnostik, Doketisme (yang tidak percaya kemanusiaan Yesus) pada waktu itu. Demikian juga menyatakan dengan lebih sempurna rahasia tentang kepribadian Yesus. Injil Yohanes spesifik menjelaskan hubungan Bapa dan Anak, anak dan umat-Nya.

Alkitab menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan secara unik, manusia sebagai domba dan Tuhan sebagai Sang Gembala. Dalam kitab Mazmur misalnya, penggambaran ini begitu indah.”Kami ini umat-Mu dan kawanan domba gembalaan-Mu (Mzm. 79:13); “Ketahuilah Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (Mzm. 100:3); “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1).

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 23 Maret 2014 PDF Print E-mail

Ef. 2:1-10

Ev. Bakti Anugrah

Agustinus mengatakan bahwa tidak ada orang suci yang tidak memiliki masa lalu dan tidak ada pendosa yang tidak memiliki masa depan. Agustinus sendiri di masa lalunya adalah orang yang berdosa, hidup dengan seorang perempuan tanpa menikah dan mengikuti ajaran sesat tetapi karena kasih karunia Tuhan, ia ditarik dan bertobat. John Newton juga merupakan seorang pedagang budak tetapi kemudian ia diselamatkan oleh Allah.

Kita semua adalah orang suci sekaligus orang berdosa. Martin Luther mengatakan bahwa kita adalah semper justus et peccator, kita adalah orang yang dibenarkan tetapi pada saat yang sama kita berdosa. Kita memiliki dua hal ini di dalam diri kita. Kita punya masa lalu tetapi kita juga punya masa depan. Kekudusan kita bukan karena perbuatan tetapi karena status kita di hadapan Tuhan. Kekudusan kita bukan karena pekerjaan kita sendiri tetapi karena pekerjaan Kristus. Inilah pengertian kekudusan paling mendasar di dalam Alkitab. Kekudusan adalah anugerah, sesuatu yang tidak dimiliki sebelumnya dan diberikan kepada kita. Inilah perbedaan kekristenan dengan agama lain. Dalam agama lain seseorang harus mencapai tahapan kerohanian tertentu supaya bisa disebut kudus. Dalam surat rasul Paulus kepada jemaat Korintus, jemaat Korintus adalah jemaat yang bejat tetapi rasul Paulus menyebut mereka sebagai orang kudus. Jadi status adalah yang pertama, perbuatan menyusul kemudian, inilah pernyataan Alkitab.

Ef. 1:1-3 merupakan bagian pertama mengenai bagaimana masa lalu kita sebagai orang berdosa; Ayat 4-10 merupakan masa kini sampai dengan masa depan kita sebagai orang yang dibenarkan.

Setiap orang percaya punya masa lalu dan masa lalu kita bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan karena dosa kita. Rasul Paulus mengatakan bahwa kita dahulu telah mati karena pelanggaran dan dosa. Yang disebut mati dalam Alkitab bukanlah kematian secara fisik tetapi keterpisahan dari sumber hidup yaitu Tuhan. Saat kita belum mengenal Yesus sebagai Juruselamat kita, kita terpisah dari Dia. Itulah pelanggaran baik secara moralitas (pelanggaran) dan kerohanian (dosa).

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 5 of 51
RocketTheme Joomla Templates