Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 01 Februari 2015 PDF Print E-mail

Hidup mengutamakan Tuhan

Mat 22:37-39; Yoh 15:17; 2Yoh.1:6; 1Yoh 4:9-10; 5:3

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Hidup sebagai orang percaya bukan hidup yang mementingkan kepentingan pribadi. Kita memang orang berdosa dan orang berdosa pasti mementingkan kepentingan pribadi. Namun Alkitab mengajarkan untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi. Ajaran Alkitab itu sesungguhnya melawan natur manusia yang telah jatuh dalam dosa. Ada juga sebagian kasus yang seolah-olah mementingkan kepentingan orang lain, tapi orientasinya adalah kepentingan pribadi. Misalnya pendeta yang orientasinya supaya dihormati dan dipuji orang lain. Ada kasus lain yang memang mementingkan orang lain, tapi dengan cara yang salah, seperti teroris yang rela melakukan bom bunuh diri untuk kepentingan organisasinya. Itu semua akibat manusia telah jatuh dalam dosa.

Lalu apa yang menjadi dasar bagi kita untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi untuk melayani Tuhan? Dasarnya adalah kasih Kristus. Apa gunanya mengorbankan diri mementingkan orang lain, tapi tidak ada kasih? Tidak ada. Selain kasih, kita juga harus punya komitmen. Dan komitmen ini akan menimbulkan perjuangan. Namun jika hanya komitmen tanpa kasih, tidak ada gunanya.

1Kor.13:1-3 mengajarkan kita bahwa pengorbanan pun bisa sia-sia jika tidak ada kasih. Meskipun kita punya disiplin yang tinggi, ilmu yang luas, dan iman yang bisa memindahkan gunung yang tinggi, namun jika tanpa kasih pun tidak ada artinya. Di sini Paulus menegur secara bertahap. Yang pertama adalah apakah kita punya prioritas dalam hidup? Apakah kita mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Apakah aku masih mementingkan diri sendiri? Ini hanya step awal dan mendasar. Jika kita terus berkanjang dalam step awal ini, maka kita tidak bisa maju. Kita harus belajar menyerahkan hidup dan tidak mementingkan kepentingan pribadi.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 25 Januari 2015 PDF Print E-mail

Sikap dalam Berdoa

Luk.11:5-8

Ev. Bakti Anugrah

Ada 3 bagian dalam injil Lukas 11:1-13 ini: 1) isi doa (ayat 1-4); 2) sikap dalam doa (ayat 5-8); 3) jaminan jawaban doa (ayat 9-13). Kali ini kita hanya akan membahas bagian yang kedua, yaitu sikap di dalam berdoa. Oleh beberapa penafsir bagian ini disebut sebagai “Perumpamaan Sahabat di Tengah Malam.”

Tuhan Yesus berbicara dalam konteks pedesaan orang Yahudi. Di jaman itu keramahtamahan Timur Tengah adalah sesuatu yang menonjol yang menjadi semacam hukum yang tidak tertulis untuk melayani orang asing, khususnya mereka yang singgah di tengah perjalanan. Ini termasuk menyediakan akomodasi dan makanan bagi sang tamu. Jikalau mereka sampai gagal atau lalai melakukan hal ini maka akan ada semacam rasa malu, apalagi bila yang membutuhkan bantuan adalah seorang sahabat.

Mengapa sahabatnya mengunjungi orang itu pada tengah malam? Kondisi Palestina pada siang hari tentu saja sangat panas dan melelahkan jikalau mengadakan perjalanan sehingga ada kemungkinan sahabat orang ini memilih berangkat sore atau malam hari. Akibatnya ia terpaksa bermalam di rumah sahabatnya pada waktu yang tidak diduga-duga apabila ia kemalaman dan belum sampai ke kota tujuannya. Tentu saja jaman itu belum ada telpon, sms, bbm, dan sebagainya sehingga ia tidak bisa membuat janji terlebih dahulu untuk bermalam seperti di jaman sekarang. Jadi setiap orang bisa diganggu sewaktu-waktu.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 18 Januari 2015 PDF Print E-mail

Surga

Wahyu 3:5; 4:2-4; 7:9,13; 19:7-8

Ev. Gito T. Wicaksono

Saat kita menginjili seseorang seringkali kita menggunakan ayat Yoh. 3:16 yang mengatakan bahwa nanti kita, orang percaya, akan beroleh hidup yang kekal dan kita akan masuk surga. Padahal kita begitu asing dengan surga itu sendiri.

Mengapa kita sebagai orang Kristen begitu asing dengan surga? Menurut Alkitab, sebenarnya surga itu seperti apa? Memang Alkitab tidak banyak berbicara tentang surga, tetapi bukan berarti Alkitab tidak berbicara tentang surga. John Calvin pun berbicara tidak banyak tentang surga.

Di abad ke-17, memang sangat jarang dibicarakan tentang surga. Namun justru di masa sekarang banyak orang yang berbicara tentang surga karena kebanyakan orang sedang depresi dan tidak tahu entah ke mana hidupnya setelah mereka mati. Kita lebih akrab dengan surga di tempat-tempat kematian. Itulah mengapa kita begitu asing dengan surga. Kita seringkali menjadi orang asing di hadapan Tuhan. Kita tidak kunjung mengenal kehendak Tuhan. Banyak orang yang belajar dan mengenal teologia, tapi tidak semua orang yang mengenal, mengerti, dan berelasi dengan Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 11 Januari 2015 PDF Print E-mail

Prioritas dalam Melayani Tuhan

Kolose 3:17,23

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Pelayanan adalah privilege (hak istimewa) karena sebenarnya kita semua tidak layak melayani Tuhan. Tidak ada satu manusia pun yang pantas dan memenuhi syarat untuk melayani Tuhan. Manusia sebagai makhluk yang berdosa tidak bisa memenuhi syarat Tuhan, tetapi kita dipanggil untuk melayani oleh Tuhan.

Tuhan mau menerima kita yang tidak memenuhi syarat ini dan inilah hak istimewa kita sebagai manusia percaya. Ketika kita mendapatkan hak istimewa tidak sepatutnya kita menyombongkan diri karena hak istimewa tersebut bukan didapat karena kemampuan sendiri tetapi karena pemberian-Nya.

Ketika kita diberi hak istimewa untuk melayani Tuhan, kita harus bersyukur kepada Tuhan. Manusia tidak boleh menganggap pelayanan sebagai sampah dan menolak untuk melayani Tuhan karena merasa tidak mendapatkan apa-apa. Kita harus bersyukur saat kita masih bisa melayani Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 04 Januari 2015 PDF Print E-mail

Penghancuran Diri

2 Korintus 4:16-18

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Di tahun yang baru biasanya diucapkan banyak harapan ke depan agar hidup menjadi lebih baik, sehat selalu, sukses selalu. Tapi sebenarnya apa yang terjadi di tahun ini, juga terjadi di tahun yang akan datang. Tidak ada hal baru, hanya pengulangan. Di tahun ini ada kecelakaan, kematian, penyakit, dan bencana, di tahun berikutnya juga ada hal yang sama. Memang ada hal-hal yang sepertinya baru, seperti makin dewasa, makin tua, tetapi sebenarnya itu tidak baru, melainkan dari dulu sudah seperti itu dan terus-menerus berulang.

Dalam hal ini kita tidak boleh memandangnya secara negatif, melainkan kita harus melihat dari perspektif Alkitab. Lalu apa yang patut dibanggakan oleh orang percaya? Apa yang menjadi harapan orang percaya? Apa nilai yang patut dibanggakan oleh orang percaya?

Kita tidak boleh membanggakan prestasi, gelar, kedudukan, dan hormat manusia karena itu semua merupakan hal lahiriah yang sementara. Dalam ayat 16, dikatakan bahwa manusia lahiriah kita itu semakin merosot. Kekuatan kita bisa berkurang seiring bertambahnya usia.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 5 of 57
RocketTheme Joomla Templates