Search

Ringkasan Khotbah


Ringkasan Khotbah - 22 Maret 2015 PDF Print E-mail

Prioritas Hidup Umat Kristen

Hagai 1:1-14

Vic. Calvin Bangun

Kitab Hagai adalah kitab yang sangat singkat, terdiri dari 2 pasal saja. Kitab Hagai digolongkan sebagai kitab nabi kecil. Dalam Perjanjian Lama, kitab nabi-nabi terbagi menjadi 2 yaitu, kitab nabi besar dan kitab nabi kecil. Disebut sebagai nabi besar karena tulisannya yang banyak dan kitab tebal dan kitab nabi kecil karena tulisannya singkat. Kitab nabi kecil bukan berarti pengaruhnya kecil karena jika pengaruhnya kecil maka tidak akan ada di dalam Alkitab.

Kitab nabi kecil adalah kitab yang menceritakan tentang kehidupan umat Allah menjelang pembuangan dan setelah pembuangan. Kitab para nabi juga bisa dibagi menjadi 2 zaman yaitu sebelum pembuangan yang bersifat penghakiman dan setelah pembuangan. Bangsa Israel berada di pembuangan selama 70 tahun. Kemudian bangsa Israel dipulangkan pada tahun 539 karena Koresh memberikan perintah untuk memulangkan bangsa Israel. Dalam 2Taw.36:22-23 Tuhan menggerakkan hati raja Koresh untuk memulangkan bangsa Israel. Tetapi Koresh tidak menyadari bahwa ini adalah kehendak Tuhan.

Allah memulangkan bangsa Israel supaya bangsa Israel membangun kembali bait Allah yang telah hancur. Bait Allah sangat penting bagi Allah, karena Bait Allah merupakan simbol kehadiran Allah di antara umat-Nya. Musa mendirikan kemah suci setelah Tuhan berkata akan tinggal di antara umat-Nya. Allah mengijinkan Salomo mendirikan bait-Nya dan Allah tinggal di dalamnya. Konsep Allah pada zaman tersebut adalah Allah tidak maha hadir dan bersifat teritorial.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Maret 2015 PDF Print E-mail

Melayani dengan Dasar Kasih Kristus

Filipi 1:12-26

Pdt. Andi Halim, M.Th

Banyak orang mengatakan bahwa ia melayani dengan kasih, tetapi apakah perkataan tersebut jujur? Benarkah dia melayani dengan kasih atau ada motivasi lain dalam pelayanan. Kasih perlu diuji. Kasih kita kepada Tuhan adalah kasih yang bagaimana? Kita melayani karena kita mengasihi atau untuk kepuasan diri sendiri? Ada orang yang aktif dan giat bergereja, tetapi setelah diselidiki, pelayanan yang dilakukan adalah untuk kepuasan dan kenikmatan dirinya.

Rasul Paulus memberikan contoh orang yang melayani dengan tujuan yang bukan kasih, tetapi karena dengki dan perselisihan (Fil. 1:15). Orang-orang ini melayani untuk kepentingan diri dan tidak ikhlas dengan tujuan untuk memperberat hukuman rasul Paulus di penjara. Tidak semua orang melayani dengan sungguh-sungguh. Bagaimana dengan kita? Apakah kita melayani Tuhan karena kepuasan /keegoisan kita atau karena cinta kasih kepada Tuhan?

Bagaimana melayani dengan kasih menurut firman Tuhan? Jika dikatakan bahwa kita harus melayani dengan kasih, mungkin kita berusaha menciptakan gambaran bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya ini salah. Kita semua adalah orang berdosa dan tidak layak dalam melayani Tuhan. Jangan merasa diri kita sudah pantas dan layak dan mempunyai kasih yang layak melayani Tuhan.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 15 Februari 2015 PDF Print E-mail

Dua Macam Pembangun

Luk.6:46–49

Vic. Bakti Anugrah

Perikop ini memiliki kesamaan juga perbedaan dengan Mat.7:24–27. Mat.7:24–27 merupakan penutup dari khotbah di bukit, sedangkan Luk.6:46–49 merupakan penutup dari khotbah di dataran. Kedua perikop sama-sama membicarakan tentang dua macam dasar, namun Matius lebih menekankan tentang dua macam bangunan yang diuji dengan badai, sedangkan Lukas lebih menekankan pada dua macam pembangun yang mempersiapkan pondasinya. Tetapi keduanya menekankan bahwa pengajaran Kristus memiliki otoritas mutlak dan harus diterima penuh. Ini berarti penting sekali untuk mengikuti ajaran Kristus dan tidak boleh menganggapnya enteng.

Pembaca juga ditantang untuk merespon pada ajaran Tuhan. Kita harus memperhatikan setiap Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, mendalam, dan tidak meremehkannya. Jadi perikop ini menekankan bahwa Firman Tuhan harus didengarkan dan juga harus dilakukan. Tema tentang mendengar dan melakukan Firman Tuhan dalam Injil Lukas ini sangat ditekankan.
Dalam perikop sebelumnya (6:45) Lukas memandang kebaikan sebagai suatu ketaatan akan Firman Tuhan, tetapi yang mengabaikan Firman Tuhan itu dianggap sebagai orang yang bodoh dan jahat.

Perikop ini memberi perumpamaan mengenai dua pembangun, yaitu pembangun yang sungguh-sungguh dan pembangun yang sembarangan. Pembangun yang sembarangan menunjukkan orang yang jahat, yaitu yang meremehkan Firman Tuhan, sedangkan pembangun yang sungguh-sungguh menunjukkan orang yang taat akan Firman Tuhan. Banjir dalam perikop ini berarti ketika air sungai yang meluap dan menimbulkan aliran air yang sangat deras.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 08 Februari 2015 PDF Print E-mail

Tua-tua dalam Penglihatan Yohanes

Wahyu 4:2 - 5:14

Vic. Gito T.Wicaksono.

Tawaran utama kita saat menginjili adalah keselamatan dan masuk surga. Tetapi surga yang kita bayangkan seringkali seperti surga dalam cerita Mahabarata, atau surga dari orang yang mengatakan pernah ke surga /neraka. Kita perlu melihat pandangan mengenai surga yang dinyatakan di dalam Alkitab.

Posisi kita disucikan oleh Allah, seperti yang digambarkan dalam kitab Wahyu, bahwa kita dikenakan pakaian putih. Ada relasi antara apa yang kita hidupi saat ini, dengan apa yang akan kita hidupi nanti di surga. Hidup kita saat ini diarahkan menuju kehendak Allah, termasuk orientasi kita. Pembicaraan tentang surga biasanya hanya muncul saat ada orang yang meninggal, tetapi seharusnya kemuliaan surga itu turun ke dalam kita.

Yohanes diberikan penglihatan oleh Tuhan mengenai surga dan Yohanes menuliskan penglihatan tersebut karena perintah Tuhan, supaya kita manusia yang hidup sekarang ini memiliki orientasi menuju surga. Saat kita berdoa Bapa Kami, kita sedang mengundang Kerajaan Surga untuk bertahta di dunia ini. Umumnya sebuah kerajaan menguasai suatu daerah dengan menaklukkan daerah tersebut, tetapi Tuhan Yesus turun ke dunia bukan untuk menaklukkan, tetapi memberikan cinta. Orientasi hidup kita sepenuhnya harus tertuju kepada surga.

Read more...
 
Ringkasan Khotbah - 01 Februari 2015 PDF Print E-mail

Hidup mengutamakan Tuhan

Mat 22:37-39; Yoh 15:17; 2Yoh.1:6; 1Yoh 4:9-10; 5:3

Pdt. Andi Halim, M.Th.

Hidup sebagai orang percaya bukan hidup yang mementingkan kepentingan pribadi. Kita memang orang berdosa dan orang berdosa pasti mementingkan kepentingan pribadi. Namun Alkitab mengajarkan untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi. Ajaran Alkitab itu sesungguhnya melawan natur manusia yang telah jatuh dalam dosa. Ada juga sebagian kasus yang seolah-olah mementingkan kepentingan orang lain, tapi orientasinya adalah kepentingan pribadi. Misalnya pendeta yang orientasinya supaya dihormati dan dipuji orang lain. Ada kasus lain yang memang mementingkan orang lain, tapi dengan cara yang salah, seperti teroris yang rela melakukan bom bunuh diri untuk kepentingan organisasinya. Itu semua akibat manusia telah jatuh dalam dosa.

Lalu apa yang menjadi dasar bagi kita untuk tidak mementingkan kepentingan pribadi untuk melayani Tuhan? Dasarnya adalah kasih Kristus. Apa gunanya mengorbankan diri mementingkan orang lain, tapi tidak ada kasih? Tidak ada. Selain kasih, kita juga harus punya komitmen. Dan komitmen ini akan menimbulkan perjuangan. Namun jika hanya komitmen tanpa kasih, tidak ada gunanya.

1Kor.13:1-3 mengajarkan kita bahwa pengorbanan pun bisa sia-sia jika tidak ada kasih. Meskipun kita punya disiplin yang tinggi, ilmu yang luas, dan iman yang bisa memindahkan gunung yang tinggi, namun jika tanpa kasih pun tidak ada artinya. Di sini Paulus menegur secara bertahap. Yang pertama adalah apakah kita punya prioritas dalam hidup? Apakah kita mengutamakan Tuhan di atas segala-galanya? Apakah aku masih mementingkan diri sendiri? Ini hanya step awal dan mendasar. Jika kita terus berkanjang dalam step awal ini, maka kita tidak bisa maju. Kita harus belajar menyerahkan hidup dan tidak mementingkan kepentingan pribadi.

Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 5 of 58
RocketTheme Joomla Templates