Search

Ringkasan Khotbah - 03 Okt'10 PDF Print E-mail

 

Efesus 2:11-22

Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kita sudah belajar bagaimana keadaan kita yang dahulu dan yang sekarang. Dahulu kita mati, sekarang kita dihidupkan. Dahulu kita taat kepada iblis, sekarang kepada Allah. Dahulu kita terus berbuat kejahatan, dikuasai hawa nafsu kedagingan, dan menuju kebinasaan, sekarang kita dibangkitkan, memperoleh hidup baru dan menuju pada hidup yang kekal. Ini anugerah begitu besar bagi orang percaya. Kita seringkali meremehkan dan mengalihkan intisari iman Kristen ini dengan hal-hal yang tidak berguna. Jangan sampai kita terseret dengan pengajaran-pengajaran yang tidak beres.

Setelah memperoleh anugerah besar ini, bagaimana respon kita? Mengapa seringkali respon orang-orang yang diajari kebenaran justru bertolak belakang dengan kebenaran yang sejati? Mengapa orang-orang yang mendengar pengajaran yang salah justru begitu antusias dan bersemangat seolah-olah mendapat hal yang begitu berharga? Kita perlu introspeksi. Semangat dalam pelayanan tidak menjamin orang sudah dalam kebenaran. Tetapi orang yang sudah dalam kebenaran namun tidak memiliki semangat juga berarti ada yang salah.

Buktinya para rasul. Mereka sudah mengenal kebenaran, melihat kebangkitan Kristus, mereka dipimpin oleh Roh Kudus, dan pada hari Pentakosta mendapat suatu fenomena dari kehadiran Roh Kudus kemudian mereka semangat luar biasa. Gereja mula-mula ditandai dengan semangat luar biasa dan berkembang terus meskipun mereka melewati masa-masa penyiksaan yang hebat. Tetapi mengapa kita yang menerima anugerah tidak memiliki semangat sama sekali? Kita bukan mau menderita bersama-sama Kristus melainkan bersenang-senang dengan Kristus. Ini harus terus menjadi koreksi dalam hidup kita.

Jangan terus menyalahkan lingkungan! Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa orang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan, hidupnya tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego ditengah-tengah kekafiran pada saat itu tetap menjaga imannya. Musa yang bertumbuh ditengah kekafiran orang Mesir, tetapi dalam kasih karunia Allah Musa setia mengikut Tuhan meskipun mengalami jatuh bangun. Kita sebagai orang Kristen seharusnya bukan dipengaruhi lingkungan tetapi mempengaruhi lingkungan. Sudahkah saya mempengaruhi lingkungan saya supaya mereka mau belajar firman dan mengenal Tuhan? sudahkah kita menjadi saksi untuk kemuliaan Tuhan? Hari ini saya akan membahas mengenai respon kita sebagai orang Kristen.

Pertama, bertanggung jawab. Masalah semangat pelayanan adalah masalah tanggung jawab kita. Misalnya sebagai seorang guru, tanggung jawab saya adalah mengajar dengan baik. Kita tidak bisa mengharapkan semangat pelayanan harus dipompa dari surga. Mengapa jika kita mencari uang bersemangat? Tetapi jika pelayanan harus didorong-dorong dan diingatkan bolak balik? Apakah mencari uang merupakan sifat alamiah kita? Contoh: anak umur satu tahun apakah suka uang? Anak kecil jika tidak diajar menghargai uang tidak akan mengerti bahwa uang tersebut bernilai. Justru kebanyakan dari kita dididik dari kecil bahwa hidup adalah uang karena itu kita mengejar uang. Seharusnya pendidikan kepada seorang anak bukan semata-mata mengajarkan uang, tetapi bagaimana belajar menghargai Tuhan! Sehingga untuk Tuhan saya mau serius, setia dan bertanggung jawab.

Ketika saya baru bertobat hati saya mengalami konflik. Tetapi saat itu masih keliru. Jika untuk pelayanan, baca Alkitab, saya begitu berapi-api. Sementara jika disuruh belajar elektro, saya begitu malas. Lalu saya bergumul di hadapan Tuhan, mengapa demikian? Saya bergumul lama dan berdoa supaya saya disuntik Roh Kudus supaya dapat bersemangat dalam belajar elektro. Kemudian saya sadar, untuk semangat belajar elektro tidak perlu tunggu disuntik Roh Kudus tetapi adalah kewajiban saya sebagai mahasiswa untuk belajar. Saya baru mengerti bahwa tidak ada dunia rohani dan dunia sekuler. Belajar elektro adalah kewajiban, belajar firman dan melayani pun adalah kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai orang Kristen. Memang semua itu adalah anugerah. Tetapi saya harus bersungguh-sungguh mengerjakan semua bidang yang Tuhan percayakan pada saya.

Saya tidak menganut paham dualisme (memisahkan dunia rohani dan sekuler) atau paham pietisme atau paham sekularisme. Ada orang yang suka sekali dunia rohani dan di dunia sekuler tidak bertanggung jawab. Ini tidak benar. Tetapi ada juga orang yang suka sekali dunia sekuler namun tidak suka sama sekali dunia rohani. Sebagai anak Tuhan, kita dipanggil di dalam dunia rohani mengerjakan semua pekerjaan dengan bertanggung jawab sekaligus saya terjun dalam duniawi untuk menjadi menerjemahkan iman dan menjadi saksi di dunia. Jadi dalam semua hal saya harus bertanggung jawab. Di manapun kita bekerja, kita harus ikut aturan perusahaan tersebut. Tidak bisa kita seenaknya sendiri.

Bagaimana dengan pelayanan? Apakah karena kita tidak digaji maka boleh sembarangan? Tentu tidak! Kita sudah dibayar oleh darah Yesus. Karena itu kita tidak dapat mengatakan karena saya tidak digaji maka dapat lepas tanggung jawab. Kita harus bertanggung jawab karena kita sudah ditebus oleh darah Kristus. Ini harga yang begitu mahal jauh lebih besar dari gaji yang kita peroleh. Tetapi mengaja di gereja kita sering sembarangan? Tidak ada alasan.

Kedua, rendah hati. Orang yang menerima anugerah Allah adalah orang yang tidak bisa sombong. Mengapa? Karena saya menerima anugerah bukan karena saya lebih baik dari orang lain. Kita seringkali sombong karena belum pernah mengajari hajaran Tuhan sampai habis. Cara Tuhan mendidik rasul dan nabi-Nya adalah sampai ke-aku-annya betul-betul dihancurkan oleh Tuhan. Ini juga seharusnya terjadi pada kita. Siapa kita sampai bisa menerima darah Yesus dan menjadi orang Kristen? Siapa kita sehingga bisa melayani? Kita adalah orang berdosa yang sama-sama tidak pantas di hadapan Allah. Kita tidak bisa berkata, “ini hasil karya saya”. Ini semua adalah pekerjaan Tuhan.

Yesaya disuruh berkhotbah pada bangsa yang tegar tengkuk, tidak mau bertobat dan pelan-pelan meninggalkannya. Yesaya sampai berkata, “sampai kapan Tuhan saya harus berkhotbah di hadapan bangsa yang keras kepala ini?”. Tuhan menjawab, “sampai semuanya habis dan tidak ada yang mau mendengarkanmu”. Bagaimana bisa sombong jika Tuhan mengatakan hal ini? Sampai Yesaya pernah mengatakan bahwa segala kesalehan kami seperti kain kotor di hadapan Allah. Tidak ada kesombongan. Paulus pun mengalami hal ini (1Kor.15:10). Paulus menyadari bahwa semua adalah kasih karunia Allah. Karena itu ia harus bekerja lebih keras lagi. Tetapi itu pun bukan aku kata Paulus, namun semata-mata kasih karunia Allah.

Ketiga, bersyukur senantiasa. Orang yang menerima kasih karunia Allah adalah orang yang tidak habis-habisnya bersyukur pada Tuhan. Bersyukur pada Tuhan bukan hanya di saat dagangan laris, semua keturunan kita sehat-sehat, tetapi dalam apa pun yang terjadi tetap bersyukur dan percaya bahwa Tuhan itu baik bagi kita. Hal yang buruk pun boleh terjadi saya tetap percaya Tuhan baik bagi saya. Mengapa? Karena kasih-Nya sudah dibuktikan. Anak-Nya yang tunggal sudah mencucurkan darah bagi saudara dan saya. Inilah pokok dasar dan kekuatan iman Kristen. Jika kekuatan iman Kristen terletak pada kesuksesan di dunia maka pada saat semua ini gagal iman kita akan rontok. Jangan berkata mengapa pada Tuhan karena tidak ada kata mengapa bagi orang percaya.

Tuhan sudah berkata bahwa burung di udara pun tetap Ia pelihara. Tidak akan jatuh di luar kehendak Bapa. Rambut di kepala kita pun sudah terhitung semuanya. Ia memelihara kita dengan sempurna. Tuhan berkata bahwa kebutuhan jasmani dicari oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah tetapi Bapa yang di surga tahu bahwa kita memerlukan semuanya itu. Kita tidak boleh meragukan kebaikan Allah. Cara Allah mendidik kita mungkin tidak kita mengerti. Mungkin kita hanya melihat 30 meter ke depan  tetapi Allah melihat 30.000 meter ke depan. Kita hanya dapat melihat sebatas mata memandang, tetapi Ia melihat sampai kekekalan. Apa yang kita lihat mungkin jelek, di mata-Nya itu baik. Iman artinya saya percaya apa pun yang terjadi Tuhan tetap baik. Tuhan pernah memberikan perumpamaan, ayah yang jahat pun tahu memberikan pemberian yang baik bagi anaknya apalagi Bapa yang di surga. Belajar bersyukur.

Terakhir, respon kita sebagai orang-orang yang sudah menerima anugerah seharusnya memiliki kerinduan yang besar untuk mengenal Allah secara pribadi dan mengenal kehendak-Nya melalui firman. Biarlah roti hidup yang sudah tertulis di dalam firman menjadi kerinduan kita. Orang yang begitu baik terhadap sesamanya tetapi tidak peduli dan tidak mau tahu siapa Pencipta-Nya, di mata Tuhan adalah kekejian. Apakah kita punya kerinduan dekat dengan Tuhan dan mau belajar firman dengan sungguh-sungguh?

(Ringkasan ini belum dikoreksi pengkotbah: VP).

 

 
RocketTheme Joomla Templates